INTERAKSI MANUSIA DENGAN ALAM: Pocong Pemikat Gurita
16:03 Wed 07-01-2009, ketika itu saya menonton Program Trans7 “Jejak Petualang” tentunya saya bersama teman-teman MDC (Marine Diving Club – Ilmu Kelautan UNDIP) tepatnya para penghuni Basecamp. Pada episode itu membahas tentang Suku Bajo yang berada di daerah Toja Una-una. Bicara soal suku ini, kita semua tahu bahwa Suku Bajo merupakan “Suku Bahari“, yang setiap tempat (pesisir) di seluruh pelosok Tanah Air bakal ditemukan adanya suku yang punya trik khusus dalam menangkap gurita ini. Seperti saya juga pernah beberapa kali mengunjungi (saat itu dalam rangka monitoring ekosistem karang) Kepulauan Karimunjawa, jepara Jawa Tengah juga terdapat Suku tersebut, bayangkan jarak antara Toja Una-una (Sulawesi) dengan Karimunjawa (Jawa tengah). Kembali ke Suku Bajo, suku ini pada umunnya memiliki ciri-ciri: rumah (tempat tinggal) berbentuk rumah panggung tepat di atas air laut, terdapat “parking zone” di depan rumah (buat kapal tentunya), serta Trik khusus mereka dalam berburu gurita.
Saat dimulainya JP (Baca: Jejak Petualang) Episode “Pocong Pemikat Gurita”, terus terang kami agak kaget…!!! “Ini acara Mistery, Azab, apa Jejak Petualang..!!??” Ujar salah satu teman. Tapi ketika Si Cantik Medina (Medina Kamil TRANS7) sebagai presenter mulai menelusuri tanah Toja Una-una, kita mulai paham bahwa yang dimaksud “pocong” disini adalah umpan untuk menangkap gurita. Trik berburu gurita menggunakan “pocong” ini merupakan hasil interaksi Suku Bajo dengan Laut sejak jaman nenek moyang mereka.
Sakina…!!!
Itulah sebutan “pocong” untuk menangkap gurita tadi.
Teknik berburu gurita ini sebenarnya sangat simpel. Nelayan hanya membuat duplikat gurita dari batu yang diukir mirip serta diselimuti “pakaian” sehingga mirip dengan gurita. Batu ukir yang berbalut kain inilah yang disebut dengan Sakina atau Pocong. Konsep perburuan gurita yang menurut saya agak odd (baca: aneh) ini ternyata membuat saya “angkat topi” akan kecerdasan suku yang satu ini. Teknik ini sebenarnya “hanya” membohongi gurita buruan, sehingga memungkinkan gurita percaya bahwa sakina adalah pasangan mereka. Saat si gurita sedang asyik-asyiknya “PDKT” saat itulah nelayan menangkap gurita yang sedang “Salah sasaran” itu. Tapi juga pasti ada “soft skill” khusus dari Suku Bajo, tapi setidaknya cukup simpel untuk dipahami.
Dari sedikit cerita saya diatas, kita tahu bahwa interaksi kita dengan lingkungan akan membuat kita memiliki cara “tradisional” untuk mengelolanya, dan tentunya cara-cara tersebut merupakan cara yang konservatif. Dan juga Gurita yang dalam nama latinnya disebut Octopus sp ini dapat juga “dikelabuhi” oleh kecerdasan Suku Bajo, padahal selama ini octopus dikenal sebagai biota laut yang cerdas. Dan akhirnya, semoga artikel tentang INTERAKSI MANUSIA DENGAN ALAM ini bermanfaat bagi pembaca dan para browser.

pengetahuan lokal yang menarik ya…
ga kalah ma teknologi kelautan sekarang hee.hee